Konglomerat menjadikan idol wajah global
Masa ketika perusahaan raksasa Korea seperti Hyundai dan Samsung mulai memakai grup K-pop sebagai wajah mereka di pasar luar negeri. Bukan cuma iklan dalam negeri, tapi sampai kampanye global dan produk edisi terbatas.
Pakai artis di iklan sebenarnya resep lama konglomerat Korea. Samsung Electronics sudah jadi pengiklan terbesar di Korea sejak akhir 1980-an, dan sempat ada masa ketika jadi bintang utama iklan Samsung dianggap bukti sah kamu sudah top star. Tapi model CF zaman itu wajah buat konsumen dalam negeri.
Pergeserannya terjadi akhir 2018, waktu Hyundai menunjuk BTS sebagai duta merek global dan memasang mereka untuk SUV besar Palisade. Yang baru adalah sasarannya: bukan penjualan di Korea, tapi citra merek di luar negeri. Di titik inilah perusahaan chaebol mulai memperhitungkan bahwa fandom K-pop bergerak lintas negara.
Tanggal 9 Juli 2020, Samsung bekerja sama dengan Big Hit Entertainment merilis Galaxy S20+ BTS Edition barengan dengan Galaxy Buds+ BTS Edition. Earbuds-nya datang dengan case khusus yang pakai NFC buat mengganti tema layar utama dan layar kunci HP, plus wireless charging pad dengan warna senada. Buat fans, HP bukan lagi sekadar elektronik, tapi sudah jadi merch.
Polanya menular. Rumah mode mewah mulai serius merekrut idol sebagai brand ambassador (merek mewah beralih ke idol), dan pengumuman kolaborasi brand jadi sama hebohnya dengan comeback. Begitu pengaruh luar negeri kelihatan dalam angka, agensi juga ikut membesar, sampai ada perusahaan Korea yang membeli label Amerika. Setelah K-pop jadi komoditas ekspor, wajah di papan iklan pun ikut jadi versi ekspor.