Polemik akurasi sejarah drama periode
Tahun 2018, sebuah drama berbujet besar tentang laskar rakyat yang melawan Jepang di akhir era Joseon langsung terseret polemik panas soal cara menggambarkan sejarah, tepat saat tayang. Dramanya sukses besar, tapi terbukti bahwa di Korea, era ini masih soal posisi, bukan soal tafsir.
Dramanya adalah Mr. Sunshine. Ditulis Kim Eun-sook, dibintangi Lee Byung-hun dan Kim Tae-ri, dengan biaya produksi sekitar 43 miliar won. Tokoh utamanya Eugene Choi, anak budak yang kabur ke Amerika dan jadi perwira Marinir AS, dan Go Ae-sin, nona bangsawan di siang hari dan penembak jitu laskar di malam hari. Tayang di tvN sekaligus streaming global di Netflix, drama ini jarang-jarang membawa Korea menjelang masa penjajahan Jepang ke penonton dunia sebesar itu.
Percikannya muncul sejak episode pertama. Di adegan ekspedisi Amerika tahun 1871, bupati Heungseon Daewongun digambarkan cuma mengirim sedikit pasukan ke Pulau Ganghwa dan menutup kekurangannya dengan rakyat biasa demi mempertahankan kekuasaan. Para kritikus membantah, benteng di sana justru dipenuhi ratusan meriam atas arahannya. Adegan yang seolah menunjukkan istana membiarkan begitu saja tentara yang ditawan Amerika juga dikritik. Lalu setting di mana laskar berbaju ala Barat sudah memburu kolaborator pro-Jepang tahun 1875 dinilai meleset puluhan tahun, karena pemberontakan laskar baru benar-benar marak setelah dekret potong rambut tahun 1895.
Rasa nggak nyaman yang lebih dalam datang dari temanya sendiri. Drama ini menggambarkan kekaisaran Jepang dengan kejam, tapi sebelum itu blak-blakan menunjukkan luka yang ditinggalkan sistem kasta Joseon pada tokoh-tokohnya. Eugene dibuang karena budak, Gu Dong-mae karena anak jagal. Pertanyaan besarnya: apakah negara yang menyakiti rakyatnya sendiri masih layak dibela? Sebagian penonton membacanya sebagai cara pandang yang merendahkan Joseon. Pihak produksi menegaskan ceritanya fiksi.
Para pencinta detail juga nggak kasih ampun. Mereka menemukan senapan M1 Garand, yang baru resmi dipakai tahun 1936, muncul di tahun 1902, dan tentara Jepang memegang Mosin-Nagant buatan Rusia. Kesalahan paling fatal ada di surat perintah pulang Eugene: tertulis Franklin Roosevelt, bukan Theodore Roosevelt. Buat penonton Korea ini bukan sekadar typo, karena tertukar antara presiden yang membiarkan Korea diserahkan ke Jepang lewat perjanjian Katsura-Taft dan presiden yang di Konferensi Kairo mencantumkan kemerdekaan Korea.
Tapi yang tepat juga diakui. Adegan para perempuan memanah memakai teknik panahan tradisional Korea yang menarik tali dengan ibu jari, dan gerbang Istana Deoksugung ditulis dengan nama lamanya sebelum 1906, Daeanmun. Episode terakhir juga menghadirkan ulang foto terkenal para laskar tahun 1907 persis sama, detail yang bikin banyak penonton mewek.
Pada akhirnya, dramanya menang. Mr. Sunshine dianggap karya terbaik Kim Eun-sook dan bertahun-tahun kemudian masih balik lagi ke top 10 Netflix Korea. Bahkan petinggi militer AS di Korea terang-terangan menyarankan siapa pun yang mau datang ke Korea untuk menontonnya. Minat pada era itu melonjak, dan bertepatan dengan 100 tahun Pemerintahan Sementara pada 2019, muncul gelombang drama dan film bertema gerakan kemerdekaan.
Tiga tahun kemudian, polemik sejenis meledak jauh lebih besar di sekitar Snowdrop (The Snowdrop history dispute). Di Korea, sageuk dan drama periode dibaca seperti buku sejarah, bahkan saat jadi latar kisah cinta. Makanya satu adegan yang dinikmati santai oleh fans luar negeri bisa jadi berita besar di sana.