Kim Eun-sook
Penulis skenario di balik hit selama dua dekade, dari Lovers in Paris, Goblin, sampai The Glory. Kalau mau bukti bahwa di drakor nama penulis itu sudah jadi genre sendiri, dia contoh paling jelasnya.
Kisah awalnya jauh dari dongeng. Dia anak sulung dari tiga bersaudara di Gangneung, tumbuh di rumah yang atapnya bocor, dan karena payungnya cuma satu, adik-adik laki-lakinya sengaja meninggalkannya buat dia tiap hujan. Lulus SMA, dia langsung kerja jadi staf pembukuan di pabrik mebel dekat rumah sambil tiap hari pinjam novel di taman bacaan, sampai satu iklan di jalan bikin dia daftar jurusan penulisan kreatif di Seoul Institute of the Arts. Dua kali gagal lomba sastra koran dan bertahun-tahun menulis naskah teater di Daehangno, sampai seorang produser drama nonton pentasnya, mencari nomornya, lalu bilang, nggak usah mikirin uang, coba aja tulis drama.
Lovers in Paris (2004) tembus 57,6% di episode terakhir dan bikin dia langsung jadi penulis bintang. Dialog seperti "Sayang, ayo pergi" dan "Kamu ada di dalam sini" diparodikan di mana-mana. Tapi ending yang bilang semuanya cuma naskah tulisan si tokoh utama dikritik habis, dan dia sendiri belakangan mengaku itu keputusan yang salah. Tahun berikutnya Lovers in Prague menyimpan easter egg pribadi: nama tokoh utamanya, Choi Sang-hyun, adalah nama asli suaminya, yang waktu itu masih pacarnya. Katanya dia melamar dengan bilang, sekarang semua orang sudah tahu namamu, jadi kamu nggak bisa ke mana-mana lagi.
Rumus drama Kim Eun-sook itu jelas: cowok kaya yang ketus, cewek miskin tapi harga dirinya tinggi, pola Cinderella yang dia akui sendiri, plus dialog saling balas secepat main pingpong. Secret Garden (2010) adalah puncaknya. Hyun Bin dan Ha Ji-won bertukar tubuh, lalu ciuman busa, baju olahraga berkilau, "Ini yang terbaik? Kamu yakin?" dan kalimat "dijahit tangan oleh perajin Italia" viral semua; episode terakhirnya 35,2%. A Gentleman's Dignity (2012) menarik Jang Dong-gun balik ke drama setelah 12 tahun, dan The Heirs (2013) mencapai 25,6% lewat Lee Min-ho, meski juga dikritik karena meromantisasi pelaku perundungan dan kebanyakan PPL.
Tahun 2016 adalah masa jayanya. Descendants of the Sun, yang diproduksi penuh sebelum tayang supaya bisa rilis bareng di Korea dan China, tamat dengan 38,8% berkat Song Joong-ki dan Song Hye-kyo. Ada tentara bernama AGUS, yaitu SUGA dibaca terbalik, sampai muncul teori dia fans SUGA; belakangan dia bilang yang ARMY itu anak perempuannya. Musim dingin tahun itu, Goblin dari tvN dengan Gong Yoo, Kim Go-eun, dan Lee Dong-wook mencatat rata-rata 20,5% di episode terakhir, drama kabel pertama yang tembus 20%. Konon Lee Dong-wook sampai mencari jadwal penerbangannya dan beli tiket demi menawarkan diri jadi malaikat maut. Drama ini membawanya meraih Grand Prize TV di Baeksang Arts Awards. Dengan sutradara Lee Eung-bok, yang menggarap dua hit tadi, dia kembali bekerja sama di Mr. Sunshine (2018), kisah pejuang milisi melawan penjajahan Jepang yang dibintangi Lee Byung-hun dan Kim Tae-ri. Dunianya melebar keluar dari romance, tapi mengaitkan satu tokoh dengan kelompok ultranasionalis Jepang yang nyata memicu perdebatan sejarah, dan tim produksi minta maaf lalu menggantinya dengan organisasi fiksi.
Waktu The King: Eternal Monarch kurang sukses di Korea pada 2020, mulai muncul omongan dia sudah habis. Jawabannya datang di 2022 lewat The Glory di Netflix, drama balas dendam soal perundungan sekolah yang lahir dari pertanyaan anaknya: mana yang lebih menyakitkan, anakmu memukuli orang sampai hampir mati atau dipukuli sampai hampir mati? Ini kolaborasi keduanya dengan Song Hye-kyo. Part 2 bertahan tiga minggu berturut-turut di nomor satu chart TV non-Inggris Netflix, dan "Keren, Yeon-jin!" jadi meme nasional. Inilah momen ratu dialog manis banting setir ke balas dendam. Di 2025 dia balik ke fantasi romantis lewat Genie, Make a Wish yang dibintangi Suzy dan Kim Woo-bin, yang perjalanannya dari figuran di A Gentleman's Dignity, lalu The Heirs, sampai jadi pemeran utama di dramanya.
Dia sendiri lebih suka menyebut dramanya hiburan, bukan karya seni. Media Korea menyebutnya bersama Kim Eun-hee dan Kim Soon-ok sebagai "Tiga Kim", dan dia bersahabat dekat dengan Kim Eun-hee. Uniknya, dia belum pernah menulis satu drama pun untuk MBC atau JTBC. Lalu di 2026, Seoul International Drama Awards untuk pertama kalinya memberikan penghargaan tertinggi, Golden Bird Prize, kepada penulis, dan pemenangnya adalah dia. Semacam cap resmi bahwa di drakor nama penulis berdiri di depan nama sutradara.