decodeK

Kenapa fans beli album yang sama berkali-kali

KataFandomAlbumIndustriInti

Pemandangan khas fandom K-pop: beli album yang sama sepuluh, bahkan seratus kopi. Ini yang terjadi kalau album berubah dari barang buat didengerin jadi tiket undian sekaligus kotak gacha.

Alasan pertama: photocard. Tiap album isinya satu kartu foto member secara acak, jadi kamu terus unboxing sampai bias-mu, alias choeae, keluar. Bayar tanpa tahu dapat apa itu desainnya sama persis dengan item gacha di game, dan kritik soal ini sering muncul. Album juga biasanya rilis dalam beberapa versi dengan cover dan isi yang beda, jadi ngoleksi semua versi udah jadi salah satu jalur ngefans. Kartu dobel biasanya dituker sesama fans atau dijual di aplikasi barang bekas.

Alasan kedua: fansign. Pemenangnya biasanya dipilih dari orang yang beli album selama periode pendaftaran, dan walaupun pengumumannya bilang 'diundi', di kalangan fans udah jadi rahasia umum kalau kebanyakan sebenarnya diurutkan dari yang belinya paling banyak. Makanya 'cut fansign', jumlah album yang dibutuhin buat lolos, pantang diomongin terang-terangan. Begitu bocor, semua orang beli lebih banyak dan cut-nya naik. Setelah COVID-19, jumlah pemenang turun dari sekitar 100 jadi 30 sampai 50 orang, dan fansign lewat video call bikin fans dari luar Seoul dan luar negeri ikut rebutan, jadi cut-nya makin melambung. Semua pengeluaran itu cuma buat ngobrol satu sampai dua menit, paling lama.

Alasan ketiga: angka. Chodong, penjualan minggu pertama, dibaca kayak rapor yang nunjukin sebesar apa sebuah grup, jadi fandom beli album seterorganisir mereka ngadain streaming. Buat agensi, rekor minggu pertama jadi modal buat era berikutnya, alasan yang cukup buat terus nambah versi dan benefit pre-order.

Sisi gelapnya juga pekat. Foto album yang dibuang sekardus, masih bersegel kecuali photocard-nya udah diambil, bikin isu lingkungan terus diangkat, dan cara milah sampah case plastik dan CD jadi masalah nyata buat fans. Ada juga suara yang ngajak ngalihin dukungan ke donasi fandom ketimbang borong album. Dari luar kelihatan aneh, tapi buat banyak fans Korea, album itu bukan sekadar wadah musik, lebih mirip tiket buat ketemu orang yang mereka sayang.