Disabilitas di layar
Waktu drakor dengan tokoh utama penyandang disabilitas sukses mendunia, para penyandang disabilitas dan keluarganya mulai angkat suara soal seberapa mirip gambaran itu dengan kenyataan. Perhatian makin besar, begitu juga beban satu karakter yang dipaksa mewakili semua orang.
Titik baliknya adalah Extraordinary Attorney Woo tahun 2022. Kisah pengacara baru dengan spektrum autisme ini mulai dari rating 0,9% di channel yang masih baru, ditutup di 17,5%, lalu menyebar ke seluruh dunia lewat Netflix. Pemeran utamanya, Park Eun-bin, sampai dapat penghargaan utama lewat peran ini. Profesor pendidikan khusus yang jadi konsultan bilang mereka ingin mendobrak stereotip penyandang autisme yang cuma bisa dibantu, dan sebagian karakternya terinspirasi dari ilmuwan hewan autistik Temple Grandin.
Reaksinya terbelah dua. Seorang perempuan dewasa autistik menulis bahwa hampir semua tokoh autistik di budaya pop Korea itu laki-laki, jadi melihat cerita perempuan seusianya saja sudah bikin dia bahagia; seorang perempuan autistik di Jepang bilang drama ini memberinya keberanian untuk merasa boleh hidup. Di sisi lain, orang tua anak autistik cerita kalau sekarang orang-orang bilang, "Cari dong bakat anakmu, kayak Woo." Para ahli menegaskan sindrom savant itu langka banget, dan Woo adalah karakter yang mencampur ciri autisme fungsi tinggi dan autisme berat dalam satu orang. Banyak juga yang ingat gimana film Rain Man dulu menyebarkan mitos bahwa autis pasti jenius.
Menariknya, dramanya sendiri udah sadar soal ini. Di salah satu episode, Woo membela terdakwa autistik dan langsung berhadapan dengan dunia yang menganggap mereka berdua sama cuma karena diagnosisnya sama. Rasa nggak nyaman saat satu orang harus menjelaskan satu kelompok utuh sudah ada di dalam ceritanya. Waktu itu juga muncul pertanyaan gimana jadinya kalau perannya dimainkan aktor penyandang disabilitas, dan kritik yang sama terus muncul dalam representasi LGBTQ+.
Jejaknya udah ada sebelum Woo. Good Doctor mengisahkan dokter bedah dengan sindrom savant, It's Okay to Not Be Okay memberi porsi besar untuk kakak laki-laki yang autistik, dan Our Blues menghadirkan seniman dengan sindrom Down yang memerankan kisahnya sendiri. Film tentang kisah nyata siswa tunarungu yang jadi korban kekerasan bahkan sampai mengubah undang-undang, dan makin banyak drama yang membahas kesehatan mental secara terang-terangan. Sementara disabilitas makin sering muncul di layar, perjuangan untuk hak mobilitas masih terus berlangsung di jalanan. Satu drama memang nggak bisa langsung mengubah kenyataan, tapi jelas membuka obrolan; perdebatan ini hidup di antara dua kenyataan itu.