
gonggi (공기놀이)
Permainan tangan Korea: lempar lalu sambar lima batu kecil. Sudah bertahan dari generasi ke generasi di lantai kelas pas jam istirahat, alias permainan yang paling awet.
Aturannya simpel. Sebar batunya, lempar satu ke atas, ambil batu di lantai sebelum yang dilempar jatuh, lalu tangkap batu tadi. Level satu ambil satu-satu, level dua dua-dua, level tiga tiga plus satu, level empat langsung empat. Penutupnya, kkeokgi, kamu lempar kelima batu, tampung di punggung tangan, lempar lagi, terus sambar di udara. Jumlah batu yang nyangkut di punggung tangan itulah skormu, jadi yang tangannya kecil dari dulu suka protes.
Serunya justru di aturan lokal yang beda-beda tiap daerah. Kalau dua batu nempel jadi bentuk angka 8, lawan yang duluan teriak "manusia salju!" langsung memotong giliranmu. Kalau batu di genggamanmu bunyi kletek, semua teriak "cuci beras!" dan kamu gugur. Versi jago yang melempar semua batu di tangan sekaligus disebut "gonggi jenius". Aturan yang sama bisa beda nama di kampung sebelah, jadi murid pindahan biasanya langsung ribut di hari pertama. Sama kayak permainan gang dan ttakji, anak-anak nulis buku aturannya sendiri.
Sejarahnya panjang. Sarjana akhir era Joseon, Yi Gyu-gyeong, pernah mencatat permainan melempar batu ke udara dan menangkapnya dengan telapak tangan, dan bentuknya hampir sama dengan sekarang. Dulu pakai kerikil pinggir jalan sampai tangan lecet; sekarang toko alat tulis jual batu plastik berisi potongan logam. Di Busan dan Ulsan kadang disebut salgu.
Dunia kenal gonggi berkat Squid Game Season 2. Gonggi muncul sebagai salah satu cabang lomba lari lima kaki, bareng jegichagi dan ttakji, dan adegan Dae-ho yang lolos tiap level tanpa salah sekali pun langsung viral. Fakta seru: tangan itu bukan milik aktor Kang Ha-neul, tapi pemain gonggi jagoan yang jadi pemeran pengganti. Habis itu YouTube dibanjiri video Gonggi dan kolom komentar penuh "di negaraku juga ada", dari permainan kerikil India, jackstones di Barat, sampai Cinco Marias di Brasil. Wajar kok permainan mirip muncul di banyak tempat, jadi nggak perlu jadi rebutan asal budaya. Aturan ala Korea dan jurus punggung tangan itulah ciri khasnya.
Sekarang bahkan ada speed gonggi, versi adu waktu yang punya kejuaraan dunia sejak 2023. Persis kayak dalgona, mainan anak bangku belakang berubah jadi tantangan global.