decodeK

Budaya ini punya siapa?

KataDiplomasiBudayaPerdebatanInti

Perdebatan online tanpa ujung soal kimchi, hanbok, atau topi gat itu "aslinya" punya negara mana. Ini jenis gesekan baru yang muncul sejak budaya Korea jadi barang ekspor.

Kimchi adalah medan perang utamanya. November 2020, media pemerintah China bilang standar internasional (ISO) kimchi yang dipimpin China sudah resmi lahir, dan Korea langsung heboh. Plot twist: standar itu ternyata soal paocai, acar ala Sichuan, dan dokumennya bahkan menulis jelas bahwa standar ini tidak berlaku untuk kimchi. Kimchi dibuat dua tahap, sayur digarami dulu lalu diaduk dengan bumbu, dan paocai nggak dibuat begitu. Sebelumnya juga ada ronde dengan Jepang: definisi kimchi di standar pangan CODEX yang berpusat pada sawi putih itu disusun buru-buru supaya beda dari acar kilat Jepang. Terus yang masuk daftar UNESCO tahun 2013 itu bukan kimchi sebagai makanan, tapi gimjang, tradisi bikin kimchi bareng-bareng, detail yang sering hilang tiap kali ribut.

Hanbok kebawa gara-gara game. November 2020, game mobile China Shining Nikki mempromosikan kostum hanbok sebagai pakaian tradisional Korea, lalu menggantinya jadi pakaian China setelah pemain China protes, dan pas pemain Korea balik protes, layanan Korea-nya malah ditutup. Dari situ istilah "Proyek Timur Laut hanbok" menyebar. Hebohnya gat di luar negeri setelah Kingdom di Netflix juga disebut sebagai pemicu reaksi di internet China. Waktu seorang perempuan berbusana ala hanbok muncul di upacara pembukaan Olimpiade Musim Dingin Beijing 2022, Korea panas lagi.

K-pop juga nggak lolos. Waktu IVE memasukkan elemen tradisional Korea ke MV HEYA, komentar "Korea nyuri budaya China lagi" berdatangan. Tapi kebanyakan fans internasional cuek dan terus muji, jadi hasil akhirnya cuma nambah views.

Kenapa bisa sepanas ini? Asia Timur udah ribuan tahun saling tukar pakaian dan makanan, dan gat sendiri bentuknya makin mirip topi China karena pengaruh gaya Mongol di era Dinasti Yuan. Rebutan siapa pemilik "resmi" dari warisan bersama memang nggak ada habisnya. Dari sisi Korea juga ada yang kebablasan: konten gukppong dan adu mulut di komunitas online bikin apinya makin besar, dan tiap kali hubungan dengan China memburuk, perdebatannya makin kasar.