Korea dan China
Tetangga yang paling dekat soal duit, tapi makin jauh soal perasaan. China itu mitra dagang terbesar Korea, tapi pintu budayanya hampir tertutup sejak 2016.
Hubungan resminya baru dimulai tahun 1992, waktu Seoul memutus hubungan dengan Taiwan demi mengakui China. Buat merayakan ulang tahun kedua, Korea dapat pinjaman panda pertamanya. Dua dekade setelahnya kayak bulan madu: kursus Mandarin penuh, Myeongdong dan Jeju dibanjiri turis China, yang sempat jadi hampir separuh dari semua wisatawan asing.
Hallyu juga paling panas di China. Tahun 2014 My Love from the Star bikin lipstik pemeran utamanya ludes, bahkan chimaek ikut viral (satu drakor yang menggerakkan pasar), dan brand kosmetik kayak AmorePacific tumbuh gede berkat pembeli dari China. EXO malah debut dengan subunit Korea dan subunit China, tapi di tahun yang sama member China-nya mulai cabut satu per satu (keluarnya member China EXO), dan kelihatan deh batas model idol kolaborasi itu.
Suasananya berbalik setelah Korea memutuskan memasang THAAD tahun 2016. Artis Korea tiba-tiba hilang dari TV, panggung, dan iklan di China, yang dikenal sebagai larangan Hallyu, dan rombongan turis anjlok. Agensi lalu pindah fokus ke Jepang dan Amerika, dan itu salah satu alasan K-pop sebesar sekarang di Barat.
Sekarang ributnya lebih kencang di internet. Debat soal kimchi dan hanbok punya siapa (budaya ini punya siapa), saling tuding tiap musim semi soal debu halus, COVID-19, sampai kontroversi penjurian short track di Olimpiade Musim Dingin Beijing 2022 terus numpuk. Survei demi survei menunjukkan anak muda Korea yang paling negatif soal China.
Tapi hubungan ini nggak bisa diputus begitu aja. Buat negara yang hidup dari ekspor, China itu mitra dagang nomor satu sekaligus pasar besar buat ekspor andalan kayak chip, dan warga China juga kelompok penduduk asing terbanyak di Korea. Aktris kayak Tang Wei masih disayang di sana, dan game China kayak Genshin Impact ikut mengubah cara gamer Korea memandang industrinya. Dekat, ribet, dan masih terus berjalan.