misemeonji (미세먼지)
Hari-hari ketika partikel super kecil bikin udara kelabu dan berkabut. Orang Korea ngecek angka debu sebelum ngecek cuaca tiap pagi, dan pas lagi jelek, masker dipakai dan jendela ditutup.
Namanya aja udah bikin bingung. Secara internasional, PM10 itu partikel melayang dan PM2.5 itu debu halus. Di Korea, PM10 disebut misemeonji ('debu halus') dan PM2.5 chomisemeonji ('debu ultrahalus'). Ini juga beda sama hwangsa, debu kuning yang datang dari gurun di China tiap musim semi. Debu kuning awalnya badai pasir alami, sedangkan debu halus terbentuk dari partikel asap yang nyatu sama oksida sulfur dan uap air. Nyebelinnya, dua-duanya numpuk pas musim sakura.
Tersangka utamanya polusi dari kawasan industri China bagian timur yang kebawa angin barat. Jadi cuaca yang nentuin: hari yang dingin banget malah cerah, sementara hari musim dingin yang anehnya hangat dengan angin barat justru paling parah. Waktu pandemi bikin pabrik-pabrik China berhenti di awal 2020, udara yang kelihatan lebih bersih sempat rame dibahas. Isu ini ikut nambahin sentimen anti-China, sampai ada seruan boikot purifier udara buatan China (Korea dan China).
Kehidupan sehari-hari ikut berubah. Masker bergrade kayak KF80, KF94, dan KF99 jadi barang biasa, dan purifier udara naik kelas dari barang mewah jadi wajib punya. Jemuran nggak bisa di luar, jadi mesin pengering laris, dan kadang lari pagi diganti olahraga di rumah. Tapi masker grade tinggi nggak selalu lebih baik, karena bikin napas lebih berat dan bisa nyusahin ibu hamil atau lansia. Walau purifier nyala, sarannya tetap buka jendela sebentar kira-kira dua kali sehari.
Plot twist-nya: walau kerasa makin parah, angkanya justru membaik. Rata-rata tahunan PM2.5 di Seoul turun dari 26 µg/m³ di 2008 jadi 17.6 µg/m³ di 2024, terendah sejak ada pencatatan, dan hari 'buruk' turun dari 67 jadi 24 hari. Seoul baru mulai ngukur debu menjelang Olimpiade 1988. Perhatian publik meledak sekitar 2014, dan dari situ kesan 'makin parah' nempel.