Silenced
Film tahun 2011 tentang kasus kekerasan seksual nyata di sekolah untuk anak-anak tunarungu. Kemarahan publik setelah film ini tayang sampai memaksa penyelidikan ulang dan perubahan undang-undang.
Kisahnya diangkat dari kasus Sekolah Inhwa: antara tahun 2000 dan 2005, kepala sekolah dan staf sebuah sekolah khusus tunarungu di Gwangju melakukan kekerasan seksual dan penganiayaan terhadap murid-muridnya. Novelis Gong Ji-young menulis bukunya setelah membaca tulisan seorang wartawan magang soal persidangan kasus itu, lalu menerbitkannya bersambung online sejak 2008. Hwang Dong-hyuk mengadaptasi dan menyutradarainya sendiri, dengan distribusi dari CJ ENM. Di film, nama sekolahnya diganti jadi Jaae dan kotanya jadi kota fiktif Mujin.
Gong Yoo berperan sebagai Kang In-ho, guru seni yang baru masuk. Katanya dia sendiri yang baca novelnya dan ngusulin buat difilmkan, dan itu bikin heboh, soalnya ini aktor manis dari Coffee Prince yang milih cerita seberat ini. Jung Yu-mi jadi Seo Yu-jin, aktivis HAM, dan mereka berdua reuni lagi bertahun-tahun kemudian di Train to Busan. Jang Gwang, yang memerankan kepala sekolah dan kembarannya, lolos dari 800 pesaing, dan aktingnya seram banget sampai istrinya sendiri katanya nggak mau lihat mukanya selama tiga hari.
Adegan paling nyesek justru saat sistem cuek. Balai kota lempar tanggung jawab ke dinas pendidikan, dinas pendidikan lempar balik ke balai kota, dan polisi setempat malah berpihak ke sekolah. Di persidangan, penonton tunarungu protes serempak tiap ada saksi yang bohong, dan karena mereka nggak bisa dengar hakim minta tenang, akhirnya penerjemah bahasa isyarat yang harus menenangkan mereka pakai tangan. Satu adegan itu udah cukup menjelaskan kenapa kasus ini lama banget terkubur. Putusannya ringan banget, dan filmnya berakhir lebih tragis dibanding novelnya.
Hwang bilang novelnya udah mengurangi kengerian aslinya setengah, dan filmnya mengurangi novelnya setengah lagi, tapi penonton tetap keluar bioskop dalam keadaan syok. Meski ratingnya khusus dewasa, film ini tembus 910 ribu penonton dalam tiga hari, lewat 4 juta dalam 20 hari, dan finis di sekitar 4,66 juta. Tim produksi sempat mengedit beberapa bagian dan mengajukan ulang rating supaya remaja bisa nonton, tapi ditolak. Sutradaranya juga sengaja nggak mencantumkan nama para aktor cilik di materi promosi supaya mereka nggak dijadikan bahan berita sensasional.
Cerita sebenarnya justru dimulai di luar bioskop. September 2011, pas baru rilis, penyelidikan ulang resmi diputuskan. Sebulan kemudian, parlemen mengesahkan revisi yang menghapus masa kedaluwarsa untuk kejahatan seksual terhadap penyandang disabilitas dan anak-anak serta memperberat hukumannya, yang dijuluki UU Dogani. Presiden pun sampai membahas film ini di rapat. Sekolahnya dicabut izinnya dan tutup tahun 2012, yayasannya membubarkan diri. UU layanan sosial juga ikut direvisi. Tapi gugatan ganti rugi para korban kalah di tahun 2014 dengan alasan kedaluwarsa dan kurang bukti.
Sejak itu, media Korea selalu pakai judul "Dogani versi ini" tiap ada kasus kekerasan di panti atau fasilitas disabilitas, dan film ini jadi patokan seberapa jauh film yang membongkar kasus nyata bisa menggerakkan masyarakat. Ada harganya juga: dokumen terkait skandal daftar hitam budaya menyebut film ini, bareng Memories of Murder karya Bong Joon-ho, sebagai film yang menggambarkan polisi dan pejabat secara negatif. Di Blue Dragon Film Awards tahun itu, film ini menang Musik Terbaik dan penghargaan Popular Star buat Gong Yoo. Sepuluh tahun kemudian, sutradara yang sama bikin dunia heboh lewat Squid Game.