decodeK

Film okultisme tembus sepuluh juta penonton

Kejadian2024-03OkultismeBox officePerdukunan

Film tentang dukun dan ahli fengsui yang membongkar makam tembus sepuluh juta penonton di musim semi 2024. Belum pernah ada film okultisme atau horor Korea yang bisa begitu.

Filmnya adalah Exhuma, rilis 22 Februari 2024. Sebuah keluarga kaya di LA kena penyakit aneh yang diwariskan turun-temurun, jadi dukun Hwa-rim (Kim Go-eun) dan muridnya Bong-gil bergabung dengan ahli fengsui Sang-deok (Choi Min-sik) dan pengurus jenazah Yeong-geun (Yoo Hae-jin) untuk memindahkan makam leluhur mereka. Yang keluar dari tanah ternyata sesuatu yang harusnya tetap terkubur. Sutradaranya Jang Jae-hyun, yang dari dulu setia di genre ini lewat The Priests dan Svaha. Bujetnya 14 miliar won, titik impasnya 3,3 juta penonton.

Start-nya langsung ngebut. Hari pertama 330 ribu, hari ketiga sejuta, film Korea tercepat tahun itu. Waktu Dune: Part Two tayang pun posisinya nggak goyah. Hari ke-16 lewat 7 juta dan menggeser The Wailing (2016) dari takhta horor terlaris setelah delapan tahun. Tanggal 24 Maret, hari ke-32, akhirnya tembus sepuluh juta. Kalau The Wailing karya Na Hong-jin membuktikan perdukunan Korea bisa seram sekaligus seru, Exhuma melanjutkan jalan itu sampai jebol plafonnya. Ini film rilisan Februari pertama yang jadi film cheonman sejak Tae Guk Gi tahun 2004, dan totalnya sekitar 11,9 juta, melewati Tae Guk Gi dan masuk 20 besar sepanjang masa di Korea. Tujuh akhir pekan berturut-turut di posisi satu juga pertama kali buat film Korea.

Kuncinya ada di detail. Adegan ritual besar Kim Go-eun memadatkan upacara yang aslinya makan waktu empat jam jadi lima menit. Dia latihan berkali-kali dengan dukun sungguhan, lalu adegannya diambil dalam sehari pakai empat kamera. Choi Min-sik bilang waktu nonton langsung dia sampai khawatir Kim bakal pingsan. Nenek Hwa-rim diperankan dukun asli dengan pengalaman puluhan tahun, bukan aktris, dan jimat serta perlengkapan ritualnya dibuat dengan arahan para dukun. Bahkan adegan bola api terbang itu benda sungguhan yang digerakkan pakai crane, bukan CGI.

Begitu hantunya ketahuan terkait Jepang, penonton langsung sibuk berburu easter egg. Nama keempat tokoh utama (Kim Sang-deok, Lee Hwa-rim, Go Yeong-geun, Yun Bong-gil) semuanya diambil dari pejuang kemerdekaan, dan fans menjuluki mereka "Myo-vengers". Pasak besi yang tertanam di tanah mengambil rumor lama dari masa penjajahan Jepang. Adegan Sang-deok melempar koin 100 won ke makam sempat jadi bahan candaan: katanya sengaja, karena di koin itu ada Laksamana Yi Sun-sin yang pernah diperankan Choi di The Admiral: Roaring Currents. Aslinya, melempar koin ke makam yang posisinya buruk memang tradisi beneran, dan mereka pilih koin perak cuma karena koin tembaga nggak kelihatan di atas tanah. Ada juga sutradara dokumenter yang rilis di waktu sama menulis bahwa "kaum kiri berbondong-bondong ke film anti-Jepang", diprotes, lalu meralat.

Di luar negeri, hasilnya bikin kaget. Awalnya banyak yang ragu penonton asing bakal paham perdukunan Korea, dan rilis di China batal. Tapi di Indonesia film ini jadi film Korea terlaris sepanjang masa, mengalahkan Parasite, dan di Vietnam juga memecahkan rekor pendapatan film Korea. Penonton Asia Tenggara memang doyan horor dan akrab dengan cerita mistis Asia, jadi dunia ritual, pemakaman, dan tanah bertuah itu justru jadi daya tarik. Pendapatan globalnya sekitar 97 juta dolar.

Film ini juga meninggalkan kosakata baru. Dialog "ada yang serem keluar" viral, dan "pamyo" (membongkar makam) jadi slang untuk menggali unggahan lama atau masa lalu memalukan seseorang. Foto Choi Min-sik yang santai pakai topi dan bando pemberian fans saat acara nonton bareng menyebar jadi meme "kakek didandani". Tahun itu di Baeksang Arts Awards Jang menang Sutradara Terbaik dan Kim menang Aktris Terbaik film, lalu keduanya mengulang kemenangan yang sama di Blue Dragon Film Awards. Lee Do-hyun, pemeran Bong-gil, langsung tembus sepuluh juta di film pertamanya.