Insiden bendera Tzuyu
Januari 2016, bendera Taiwan yang dipegang Tzuyu, maknae TWICE asal Taiwan, di acara Korea jadi masalah di China, dan video permintaan maafnya yang tayang sehari sebelum pemilu presiden Taiwan menyeretnya ke tengah politik lintas selat.
Awalnya dua bulan sebelumnya. November 2015, empat member asing TWICE, yaitu Momo, Sana, Mina dan Tzuyu, tampil di My Little Television milik MBC. Tim produksi membagikan bendera negara asal masing-masing plus satu Taegukgi, kayaknya buat meredam rasa nggak nyaman penonton Korea terhadap bendera Jepang dan menonjolkan konsep member asing yang cinta Korea. Tiga member Jepang pegang Hinomaru, Tzuyu pegang bendera Taiwan langit biru matahari putih. Adegan ini cuma muncul di siaran live internet dan dipotong dari tayangan TV. Reaksinya cuma satu media Taiwan yang menyebut Tzuyu patriot. Waktu itu nggak ada yang kepikiran bahwa Taiwan bahkan nggak boleh pakai bendera itu di Olimpiade.
Apinya mulai menyala 8 Januari 2016, saat Huang An, entertainer kelahiran Taiwan yang pro Beijing, menuding Tzuyu pendukung kemerdekaan Taiwan dan menuntut dia mengakui prinsip Satu China. Komentar kebencian berbahasa Mandarin membanjiri Weibo JYP dan Instagram TWICE. Tanggal 13, Anhui TV membeberkan pesan dengan staf JYP dan membatalkan penampilan TWICE di acara spesial Imlek. Satu kalimat yang bikin runyam: sebagai perusahaan Korea, kami nggak bisa memilih antara China dan Taiwan. Banyak netizen China lebih marah sama kalimat itu daripada benderanya. Tagar boikot JYP dipakai lebih dari 65 juta kali, dan iklan HP Huawei yang dibintangi Tzuyu ikut dihentikan.
Sikap JYP berubah dalam sehari. Pernyataan pertama, malam tanggal 13, intinya bilang nggak pantas menuntut sikap politik dari cewek 16 tahun. Tekanan terus datang, jadi malam tanggal 14 keluar pernyataan kedua bahwa perusahaan memahami dan menghormati prinsip Satu China. Dampaknya merembet ke artis lain di agensi yang sama, misalnya acara Nichkhun di China yang batal. Lalu malam tanggal 15, YouTube resmi JYP mengunggah video permintaan maaf Tzuyu: Tzuyu yang baru 16 tahun, wajahnya kaku, membacakan bahwa China cuma ada satu. Di hari yang sama Park Jin-young juga merilis permintaan maaf, bilang kesalahan terbesarnya adalah nggak membimbing Tzuyu, yang sudah merantau sejak umur 13, dengan baik sebagai pengganti orang tuanya.
Timingnya parah banget. Besoknya, 16 Januari, adalah hari pemilu presiden Taiwan. TV Taiwan memutar video itu berulang kali sebagai breaking news, dan kemarahan warga justru mengarah ke Huang An dan JYP, bukan Tzuyu. Videonya dapat sekitar 20 ribu like lawan lebih dari 320 ribu dislike. Kementerian Luar Negeri Taiwan menyatakan nggak ada yang salah dengan memegang bendera negara sendiri, dan presiden terpilih Tsai Ing-wen dari DPP bilang rakyat yang mengibarkan benderanya nggak boleh ditekan. Bahkan Eric Chu, kandidat KMT yang kalah, ikut mendukung Tzuyu. Tsai menang dengan suara hampir dua kali lipat, dan ada analisis yang bilang insiden ini menaikkan partisipasi pemilih sekitar 1 sampai 2 persen. Sementara di China, kritik cepat mereda setelah media pemerintah Global Times menulis editorial yang menerima permintaan maaf itu.
Opini publik Korea mayoritas membela Tzuyu. Anak 16 tahun cuma memegang properti yang dikasih tim produksi, tapi agensinya menyuruh minta maaf demi bisnis di China: kritik itulah yang menghujani JYP dan Park Jin-young. Tzuyu segera balik ke jadwalnya, dan skandal ini malah bikin generasi yang lebih tua kenal TWICE tanpa merusak citra mereka. Tiga bulan kemudian CHEER UP meledak, dan tahun berikutnya datang kesuksesan besar di Jepang.
Industri langsung belajar. JYP menghapus keterangan kewarganegaraan member dari situs resmi TWICE, dan kebanyakan agensi berhenti mencantumkan kewarganegaraan di profil member. Saat Lai Kuan-lin, member Taiwan di Wanna One, memperkenalkan diri sebagai orang dari Taiwan, China, banyak yang membacanya sebagai kehati-hatian setelah insiden ini. Pelajarannya simpel: kalau kamu merekrut member dari luar Korea, politik negaranya ikut terbawa. Nggak lama kemudian larangan Hallyu tak resmi bikin risiko hubungan Korea-China jadi nyata, dan properti panggung sepele yang berubah jadi kontroversi sensitivitas global terus terulang. Untuk waktu lama, Tzuyu hampir nggak bisa punya aktivitas resmi di dunia berbahasa Mandarin, tempat asalnya sendiri.