League of Legends
Game tim lima lawan lima buatan Riot Games. Di Korea semua orang cukup menyebutnya 'Lol', dan sejak server Korea dibuka tahun 2011, game ini hampir nggak pernah turun dari posisi nomor satu di PC bang.
Konsepnya simpel: pilih satu dari 170 lebih champion, bentuk tim berlima, lalu hancurkan markas lawan duluan. Game ini rilis di Amerika Utara Oktober 2009, dan gamer Korea nggak sabar nunggu server lokal. Mereka rame-rame main di server luar, dan Mei 2011 komunitas udah nyebarin patch bahasa Korea buatan sendiri. Melihat antusiasme segitu, publisher Korea antre mau jadi distributor, tapi Riot malah bikin kantor cabang sendiri di Korea. Di fan meeting bulan September tahun itu, mereka memperkenalkan Ahri, champion yang terinspirasi rubah ekor sembilan dari cerita rakyat Korea dan memang disiapkan buat pemain Korea. Hari pertama open beta di bulan Desember kacau banget: download client dibuka tanpa pengumuman, sampai homepage-nya aja nggak bisa diakses.
Kunci suksesnya ada di PC bang. Game tim berlima pas banget buat geng yang duduk berjajar di warnet, dan di PC bang semua champion bisa dipakai gratis, jadi anak remaja yang uang jajannya pas-pasan pun bisa langsung main. Mei 2013, pangsa waktu mainnya di PC bang tembus 40%, padahal peringkat dua sampai sepuluh digabung cuma sekitar 20%. Angka 45,06% di bulan November tahun itu adalah rekor tertinggi sejak pencatatan dimulai tahun 2003. Juni 2014, LoL jadi game online ketiga dalam sejarah Korea yang bertahan di puncak 100 minggu berturut-turut, dan rentetan itu baru putus di minggu ke-204 saat Overwatch muncul tahun 2016. Makanya banyak yang bilang LoL sudah melampaui legenda StarCraft di PC bang.
Faktor lain: bayar nggak bikin kamu makin kuat. Banyak game online Korea waktu itu praktis jualan kekuatan, sedangkan di LoL champion bisa dibeli pakai mata uang dalam game dan skin berbayar cuma ganti tampilan. Yang menentukan ya skill, dan itu yang bikin orang betah.
Hasilnya, LoL jadi bahasa bersama. Orang yang nggak pernah main game pun tahu nama Faker, dan dua cowok yang baru kenal bisa ngobrolin LoL sejam penuh. Katanya lebih dari 80% pria Korea dari usia remaja sampai akhir 20-an pernah memainkannya. Komikus webtoon yang nyelipin lelucon LoL di panelnya juga udah jadi pemandangan biasa.
Di dunia esports, dominasi Korea lebih gila lagi. Sejak SKT T1 jadi tim Korea pertama yang juara World Championship tahun 2013, turnamen ini seolah jadi panggung Korea, dan T1 yang sekarang sukses three-peat dari 2023 sampai 2025. Liga Korea LCK termasuk segelintir liga yang pertandingan tim kurang populernya pun tembus sejuta views, dan final LCK Spring 2024 mencatat 560 ribu penonton bersamaan dari Vietnam saja. Tiap musim gugur saat Worlds, streamer pun rame-rame pindah ke konten LoL. Kalau dirunut, akar profesi pro gamer ada di PC bang era StarCraft, dan LoL tinggal meneruskan tongkat estafetnya.
LoL jadi cabang eksibisi di Asian Games Jakarta-Palembang 2018, lalu cabang resmi di Hangzhou 2022, dan Korea bawa pulang emas. Ceritanya lengkap di perjalanan game jadi cabang perlombaan. Tahun 2019, majalah TIME memasukkannya ke daftar sepuluh video game terbaik dekade 2010-an. Di Barat katanya udah meredup, tapi di Korea, China, Vietnam, dan Brasil masih jalan terus. Artinya, detik ini juga di salah satu PC bang di Seoul, ada match di Summoner's Rift yang baru dimulai.