Tragedi Itaewon
Malam 29 Oktober 2022, menjelang Halloween, kerumunan orang berdesakan di gang sempit yang menurun di Itaewon, Seoul, dan 159 orang meninggal serta 195 luka-luka. Untuk pertama kalinya Korea membahasnya sebagai urusan kebijakan: siapa yang bertanggung jawab atas keamanan acara tanpa penyelenggara?
Itaewon itu kawasan hiburan malam paling internasional di Seoul, penuh warga asing, klub, dan tempat yang buka sampai larut, contoh nyata kota 24 jam ala Korea. Dari malam sebelumnya gang-gang belakangnya sudah padat sampai susah bergerak, dan di internet beredar cerita orang terdorong, jatuh, sampai ribut. Seorang YouTuber sempat survei lokasi hari itu, menilainya berbahaya, lalu memindahkan fanmeeting yang rencananya di Itaewon ke Namsan.
Sekitar jam 10 malam tanggal 29, terjadi penyempitan arus di tengah gang miring di sebelah barat Hotel Hamilton, dekat pintu keluar 1 Stasiun Itaewon, di area yang luasnya cuma 18,24 m². Dalam 20 menit, gelombang orang masuk dari pertigaan di atas, di jalan kuliner dunia, dan setelah beberapa kali dorongan dari belakang, orang-orang di depan roboh dan tertindih berlapis-lapis. Nggak ada yang bisa mengeluarkan HP, jaringan pun macet, jadi yang di belakang nggak tahu apa yang terjadi di depan. Sekitar 150 korban meninggal di ruang sesempit itu. Ambulans terjebak di jalan yang kacau dan nggak bisa keluar dengan cepat.
Tanda bahayanya jelas. Laporan darurat pertama yang menyebut orang bisa terhimpit masuk jam 18.34, tiga jam empat puluh menit sebelumnya, dan polisi kemudian merilis sebelas laporan serupa. Tapi responsnya cuma sebatas meminta orang bubar. Pos polisinya ada persis di seberang lokasi.
Sebagian besar korban masih muda: 106 orang berusia 20-an dan 102 orang perempuan. Ada juga 26 warga asing dari 14 negara yang meninggal, antara lain dari Iran, Rusia, China, Amerika Serikat, Jepang, Thailand, Australia, dan Prancis. Karena terjadi di kawasan yang disukai warga asing di Korea dan turis, duka datang dari seluruh dunia.
Satu negara seolah berhenti. Masa berkabung nasional diumumkan, dan pembawa berita siaran dengan jas gelap dan pita hitam. Tanggal 30 Oktober, acara musik Inkigayo dan Running Man batal tayang, dan SM Entertainment membatalkan pesta Halloween tahunannya. Konten Halloween idol, konser, sampai parade taman hiburan ditunda atau dibatalkan, dan YouTube memasang pita hitam di samping logonya di Korea. Sebulan kemudian, nobar Piala Dunia di Lapangan Gwanghwamun yang ikut diselenggarakan Pemkot Seoul dibatalkan karena alasan keamanan, meski akhirnya tetap digelar oleh kelompok suporter Red Devils. Bentuk pitanya sama dengan pita kuning setelah tragedi kapal Sewol.
Soal nama pun jadi perdebatan. Supaya warga dan pedagang di sana nggak kena stigma, Asosiasi Psikologi Korea dan beberapa stasiun TV memakai sebutan 'tragedi 10.29', sementara media lain tetap memakai 'tragedi Itaewon' untuk menegaskan bahwa ini terjadi di tengah kota. UU khusus tahun 2024 memakai nama resmi 'Tragedi Itaewon 10.29'. Dampaknya nyata: tingkat kekosongan toko di sekitar Stasiun Itaewon melonjak dari 4,4% di akhir 2022 jadi 11,4% di awal 2023, sebelum pulih mulai kuartal kedua. Padahal cuma dua tahun sebelumnya, drakor Itaewon Class bikin nama itu jadi fenomena soal mimpi anak muda.
Proses mencari pihak yang bertanggung jawab makan waktu bertahun-tahun. Setelah penyelidikan parlemen, Majelis Nasional meloloskan pemakzulan menteri dalam negeri dan keselamatan, tapi Mahkamah Konstitusi menolaknya. Di pengadilan tingkat pertama, kepala kantor polisi Yongsan divonis tiga tahun penjara atas kelalaian yang menyebabkan kematian dan luka, sedangkan kepala distrik Yongsan dan kepala Kepolisian Seoul dinyatakan bebas. Pemilik Hotel Hamilton yang diadili karena perluasan bangunan ilegal kena denda. Orang-orang yang mengunggah komentar merendahkan korban secara seksual juga dituntut, dan sebagian didenda. UU khusus pengungkapan kebenaran lolos Januari 2024, dikembalikan lewat veto presiden, lalu lolos lagi lewat kesepakatan lintas partai pada Mei. UU itu membentuk komisi investigasi khusus yang bisa melapor dan meminta audit, meski tanpa wewenang menyidik atau menuntut sendiri.
Sekarang Itaewon ramai lagi. Halloween 2024 tetap dipadati orang, tapi pemerintah distrik dan polisi sudah bersiap sejak awal sehingga nggak ada masalah besar. Saat Halloween 2025 jatuh di hari Jumat, kereta bawah tanah Jalur 6 bahkan sempat melewati Stasiun Itaewon tanpa berhenti. Itulah inti dari apa yang berubah sejak malam itu: acara tanpa penyelenggara pun tetap butuh seseorang yang menjaga kerumunan.