decodeK

Ninggalin laptop di kafe

KataKeseharianKeamanan publikInti

Ninggalin laptop dan tas di meja buat nge-tag kursi sementara kamu ke toilet. Ini biasanya hal pertama yang bikin orang asing di Korea melongo.

Buat orang Korea, ini saking biasanya sampai nggak perlu dijelasin. Di republik kafe ini, tempat belajar berjam-jam di coffee shop sudah jadi gaya hidup, ada yang ninggalin laptop terbuka lalu keluar makan siang. Starbucks Korea terkenal nggak membatasi durasi duduk, sampai-sampai tokonya selalu penuh tapi perputaran mejanya nyaris nol. Ada juga kafe yang malah bikin aturan untuk memindahkan barang yang ditinggal terlalu lama ke tempat barang hilang. Kebutuhan ini bahkan melahirkan format khusus, study cafe.

Rasa aman yang sama ada di mana-mana. Paket biasanya ditaruh begitu saja di depan pintu, dan toko tanpa penjaga, terutama toko es krim diskon, menjamur sejak sekitar 2020. Tapi jujur aja, ini bukan murni soal orangnya baik-baik. Di dinding toko begitu ada layar CCTV dan peringatan bahwa pencuri bakal dilaporkan, dan kepercayaan ini ditopang kamera di tiap jalan, dashcam di hampir setiap mobil, serta tingkat penangkapan yang tinggi. Minimarket yang lampunya nyala terus dan malam terang ala kota 24 jam juga ikut berperan.

Bukan berarti semuanya aman. Setelah pembunuhan di Stasiun Gangnam tahun 2016, banyak perempuan terang-terangan bertanya apakah mereka benar-benar aman, dan meski jalanan terasa tenang, di layar justru menyebar kejahatan seksual digital seperti krisis deepfake. Tragedi Itaewon menunjukkan harga yang harus dibayar kalau pengelolaan kerumunan bolong, tanpa ada kejahatan sama sekali. Di sini kamu memang bisa ninggalin laptop. Tapi wajah rasa aman nggak cuma satu.