Pembebasan Korea
15 Agustus 1945, hari berakhirnya 35 tahun kekuasaan Jepang. Orang Korea menyebutnya Gwangbok, artinya kira-kira 'cahaya yang kembali', tapi di tahun yang sama semenanjung Korea mulai terbelah dua.
Katanya sendiri berasal dari kisah lama Tiongkok soal mengembalikan dinasti yang runtuh ke tahtanya. Masa penjajahan, yang dimulai sejak Kekaisaran Korea dianeksasi tahun 1910, berakhir waktu Jepang menyerah tanpa syarat di Perang Dunia II. Siang itu Kaisar Hirohito mengumumkan lewat radio bahwa Jepang menerima Deklarasi Potsdam. Uniknya, reaksi pertama di Korea justru sepi. Nggak banyak rumah yang punya radio, siarannya penuh gangguan, dan bahasanya Jepang tulis yang kaku dan kuno, jadi susah banget dipahami. Voice of America sebenarnya sudah mengabarkan dalam bahasa Korea beberapa jam sebelumnya, 'Jepang telah menyerah tanpa syarat', tapi radio gelombang pendek dilarang, jadi hampir nggak ada yang dengar. Polisi Jepang juga masih ada di jalan, jadi orang-orang masih menahan diri.
Ledakan sebenarnya datang besoknya. Tanggal 16 Agustus tahanan politik mulai dibebaskan dari penjara Seodaemun dan tempat lain, dan Seoul akhirnya meledak. Massa datang ke rumah aktivis kemerdekaan Yeo Un-hyeong minta dia berpidato, lalu dia naik ke lapangan sekolah Hwimun di belakang rumahnya dan berteriak bahwa hari pembebasan sudah tiba. Komite persiapan yang dia bentuk punya 145 cabang di seluruh negeri sampai akhir Agustus, dan patroli pemuda mengisi kekosongan setelah polisi kabur.
Salah satu momen paling berkesan hari itu adalah Taegukgi. Bendera ini disita habis-habisan setelah Gerakan 1 Maret 1919, jadi setelah 26 tahun kebanyakan anak muda belum pernah lihat aslinya. Semua orang menggambarnya dari ingatan, makanya trigram dan pusarannya beda-beda di tiap bendera. Yang buru-buru malah menghitamkan bagian bawah bendera Jepang pakai tinta lalu menambahkan empat trigram.
Tapi kebahagiaannya nggak utuh lama. Tentara Soviet sudah masuk ke ujung utara semenanjung sejak menyatakan perang ke Jepang tanggal 9 Agustus, dan terus bergerak ke selatan bahkan setelah Jepang menyerah. Amerika dan Soviet membagi wilayah pendudukan di garis paralel 38, sehingga tahun pembebasan langsung jadi tahun perpecahan. Garis itulah yang nantinya berujung ke Perang Korea dan DMZ yang ada sekarang. Korea Utara juga memperingati tanggal ini sebagai Hari Pembebasan.
Tepat tiga tahun kemudian, 15 Agustus 1948, pemerintah Republik Korea berdiri. Jadi hari libur ini merayakan dua-duanya, dan termasuk lima hari nasional utama Korea. Tahun 1974, peresmian jalur pertama kereta bawah tanah Seoul juga sengaja dipasang di tanggal ini.
Jejaknya kelihatan di peta dan nama. Kawasan Jepang di Busan diganti jadi Gwangbok-dong, dan Honmachi di Seoul jadi Chungmuro, diambil dari Laksamana Yi Sun-sin. Ada keluarga yang memberi nama Gwangbok ke anak laki-laki yang lahir di hari ini, dan sekarang nama itu juga dipakai buat anjing yang diadopsi pas hari libur. Ada kesaksian murid kelas 6 SD yang selama ini cuma belajar pakai bahasa Jepang sampai harus sekolah setahun lagi buat belajar Hangeul. Minggu itu juga lagi ada ujian advokat: waktu ujiannya dihentikan, 106 peserta protes sampai semuanya dapat lisensi, dan kelompok inilah yang jadi fondasi dunia hukum Korea.
Sampai sekarang tanggal ini jadi barometer hubungan Korea dan Jepang. Pidato presiden membahas sejarah penjajahan serta hubungan dengan Jepang dan Korea Utara, dan TV menayangkan acara spesial soal perjuangan kemerdekaan. Nggak ada yang dilarang secara hukum, tapi liburan ke Jepang atau aktivitas yang kental nuansa Jepang di hari ini bakal dilirik sinis, sampai ada streamer yang libur main game Jepang. Di Jepang tanggal yang sama disebut Hari Peringatan Akhir Perang, dan India juga merdeka tanggal 15 Agustus. Bagian akhir film Assassination juga sempat menyinggung hari ini.