Dana produksi makin seret
Sekitar 2023, aliran investasi ke drakor mengering dan banyak drama yang sudah dijadwalkan tayang mendadak berhenti. Biaya produksi dan honor aktor yang membengkak bertahun-tahun tetap setinggi itu, jadi drama berbujet menengah yang paling duluan hilang.
Sebelumnya sempat ada masa pesta. Waktu TV kabel menyalip stasiun TV besar, channel yang modalnya tebal membajak penulis-penulis bintang, dan selama pandemi bikin semua orang di rumah, semua platform streaming masuk bareng. Begitu Netflix punya hit global kayak Squid Game, ekspektasi soal hak siar drakor menarik banyak investasi, dan drama megah jadi standar. Honor per episode aktor papan atas naik sampai hampir 1 miliar won. Sebagai perbandingan, dulu sempat heboh waktu Bae Yong-joon, yang jadi bintang di Jepang berkat Winter Sonata, dibayar 250 juta won per episode di proyek besar berikutnya.
Masalahnya, pihak yang bayar justru capek duluan. Di 2023, stasiun TV dan platform OTT lokal sama-sama rugi, dan slot yang mau menampung drama mahal menyusut cepat banget. Drama yang syutingnya sudah beres numpuk tanpa jadwal tayang, ada yang akhirnya nggak pernah tayang, dan beberapa rumah produksi telat bayar gaji kru. Drama pra-produksi yang disimpan bertahun-tahun lalu tayang telat juga cenderung punya rating lebih rendah dibanding judul yang langsung dapat slot.
Angkanya bikin makin kerasa. Dulu waktu Korea cuma punya tiga stasiun TV nasional, slot drama tetap lebih dari 15, dan sampai sekitar 2020, kalau ditambah TV kabel, jumlahnya lebih dari 20. Di 2024, total dari semua stasiun nggak sampai 15. Drama pagi sekarang sudah nggak ditayangkan siapa pun, dan sejak tvN menghapus slot Rabu-Kamis di 2023, nggak ada lagi stasiun yang menjalankan lebih dari dua miniseri sekaligus. Slot kosong diisi variety show dan program informasi, dan tayang seminggu sekali atau jeda panjang antar-drama jadi hal biasa.
Soal hak juga berubah. Banyak stasiun TV melepas hak cipta dan cuma beli hak tayang, jadi drama sering muncul di streaming duluan baru kemudian di TV. Walaupun dramanya meledak, bagian stasiun TV kecil. Ini juga alasan fans luar negeri sering bingung nonton di mana. Platform lokal kayak TVING dan Coupang Play juga pelan-pelan memangkas jumlah drama.
Lokasi syuting ikut berubah. Dulu syuting drakor terkenal parah: 22 sampai 23 jam sehari, tidur seadanya di pojokan, dan naskah yang dikirim per adegan pas mau take, karena industri penyiaran dikecualikan dari batas jam kerja. Setelah hukumnya berubah dan aturan 52 jam seminggu juga berlaku buat kru siaran, plus aktor punya serikat pekerja, model lembur semalaman buat ngejar episode pun berakhir. Sekarang syuting direncanakan pakai storyboard dan cuma adegan yang benar-benar perlu yang diambil.
Hasilnya, yang tergusur duluan justru kelas menengah. Platform membeli proyek besar dengan bintang dan cerita besar, sementara produksi kecil memang sudah biasa bertahan dengan dana minim. Drama yang ada di tengah-tengah hilang dari jadwal, makanya penonton sering bilang sekarang nggak ada drama yang seru. Tapi drakor yang berani coba genre dan skala baru di Netflix tetap bermunculan, dan ada harapan pengetatan ini malah bikin industrinya lebih sehat.