Stadion Piala Dunia Seoul
Stadion sepak bola terbesar di Korea dengan lebih dari 66 ribu kursi. Konser solo di sini dianggap level terakhir buat penyanyi Korea, dan nama yang benar-benar berhasil bisa dihitung jari.
Stadion ini dibangun untuk Piala Dunia 2002 dan dibuka tahun 2001, di sisi barat laut Seoul, persis di sebelah Nanjido yang dulunya tempat pembuangan sampah. Laga pembuka turnamen di sini langsung bikin kejutan: Senegal mengalahkan Prancis. Korea juga main semifinal lawan Jerman di lapangan ini. Sekarang stadion ini jadi kandang timnas dan FC Seoul, dan 'World Ball' raksasa yang dulu jadi simbol nobar jalanan di depan Balai Kota kini dipindah ke alun-alun utaranya. Semua orang menyebutnya 'Sangam', padahal alamat resminya ada di Seongsan-dong, kelurahan sebelah.
Kalau lapangannya ikut diisi kursi, kapasitasnya sekitar 85 ribu orang, makanya stadion ini ada di puncak tangga venue. Daftar konsernya berbobot banget: Seo Taiji tahun 2008, HAPPENING-nya PSY tahun 2013, SMTOWN dari SM, konser 10 tahun BIGBANG tahun 2016, dan tur solo G-DRAGON tahun 2017. Bertahun-tahun Dream Concert yang diisi banyak grup memenuhi stadion ini tiap musim semi, dan tahun 2014 di sini bahkan digelar final Kejuaraan Dunia League of Legends.
Pas era stadion makin panas, 2024 jadi tahun yang gila. SEVENTEEN, Lim Young-woong, dan IU gantian memenuhi stadion ini masing-masing dua malam di tahun yang sama. Penyanyi trot dan solois perempuan berdiri di level panggung yang sama dengan grup idol papan atas, itu sendiri sudah jadi pernyataan.
Masalahnya, tiap konser di sini selalu jadi ribut. Ini stadion khusus sepak bola, jadi jadwal pertandingan didahulukan, sementara jeda musim jatuh di musim dingin yang terlalu dingin buat konser outdoor. Peralatan panggung merusak rumput, jadi tiap habis konser fans bola dan fans musik langsung saling sindir. Waktu Stadion Olimpiade di Jamsil ditutup untuk renovasi mulai 2023 dan konser numpuk ke Sangam, konfliknya meledak. Sampai Son Heung-min ikut mengkritik kondisi rumputnya secara terbuka, dan mulai 2025 pemerintah kota melarang penjualan kursi lapangan untuk konser. Imbasnya, satu festival musik yang sudah dijadwalkan batal total. Masih jadi panggung impian, tapi pintunya makin sempit.