Dari panggung musikal ke layar
Aktor teater musikal yang terlatih bernyanyi dan olah vokal menyeberang jadi pemeran utama di drakor dan film. Makanya sekarang adegan karakter tiba-tiba nyanyi di layar terasa natural.
Teater musikal Korea jadi industri beneran di tahun 2000-an, waktu musikal besar berlisensi luar negeri masuk berturut-turut dan duit korporat ikut mengalir. Tepat di tengahnya ada Cho Seung-woo. Jekyll & Hyde tahun 2004 memicu apa yang disebut "sindrom Cho Seung-woo" dan bikin musikal jadi hobi mainstream, padahal dia sudah pernah ke Cannes lewat film debutnya, Chunhyang. Fans suka banget cerita awalnya: waktu kelas 3 SMP dia nonton kakaknya main di Don Quixote versi remaja, tetap duduk setelah pertunjukan selesai, lalu berdoa supaya suatu hari bisa memerankan tokoh itu. Setelah itu dia bolak-balik antara film seperti Marathon dan Tazza: The High Rollers dan panggung seperti Hedwig dan Man of La Mancha, sampai disebut hampir satu-satunya aktor yang menguasai Chungmuro (dunia film) sekaligus Daehangno (kawasan teater). Tiket pertunjukannya selalu ludes begitu dibuka.
Momen yang mengunci tren ini adalah Stranger tahun 2017. Cho memerankan jaksa Hwang Si-mok, pria yang hampir nggak pernah menunjukkan emosi. Aktor yang terkenal memenuhi teater dengan suaranya justru menguasai layar dengan wajah yang serba ditahan. Dia pernah mengaku, sebelum naskah itu datang, dia takut sendiri karena mulai nggak fokus di atas panggung, dan merasa nggak boleh begitu di depan penonton yang bayar mahal. Serialnya dilirik kritikus luar negeri dan lanjut ke musim kedua di 2020.
Jalan Cho Jung-seok lebih dramatis lagi. Dia debut di musikal tahun 2004 dan dijuluki "idolnya dunia musikal" berkat pertunjukan seperti Hedwig, tapi publik luas hampir nggak kenal. Lalu Maret 2012, selisih sehari, dia muncul sebagai kapten pengawal kerajaan di drama The King 2 Hearts dan sebagai Napdeuki, sahabat kocak pencuri adegan di film Architecture 101. Dua perannya beda jauh banget sampai banyak orang nggak sadar itu aktor yang sama, dan Napdeuki jadi pemeran pendukung paling hits tahun itu. Setelah The Face Reader, Oh My Ghost bareng Park Bo-young, dan Jealousy Incarnate bersama Gong Hyo-jin, dia tembus 9 juta penonton lewat Exit di 2019.
Lalu datang Hospital Playlist garapan Shin Won-ho di 2020. Cho main gitar listrik dan nyanyi beneran di band sahabat-sahabat fakultas kedokteran, dan lagu OST "Aloha" yang dia nyanyikan menyapu puncak chart streaming. Adegan band-nya kelihatan kayak latihan beneran, bukan pura-pura, dan badan yang terlatih di panggung jelas berperan besar. Inilah momen ketika adegan nyanyi di drakor berhenti jadi fan service dan berubah jadi bagian dari cerita.
Joo Won juga datang dari panggung. Dia debut di musikal tahun 2007, dan di Spring Awakening naik dari pemeran cadangan jadi pemeran utama setelah aktor utamanya keluar untuk syuting drama. Baker King, Kim Tak-goo bikin wajahnya dikenal di TV tahun 2010, lalu perannya sebagai Park Si-on di Good Doctor tahun 2013 bikin aktingnya diakui; dramanya kemudian di-remake di Amerika dan Jepang. Meski sudah sibuk, dia balik ke panggung lewat Ghost, dan menepati janjinya untuk main lagi setelah wamil di pementasan ulang tahun 2020.
Ada juga jalur sebaliknya: idol yang pindah ke musikal. Kim Jun-su, yang keluar dari TVXQ dan membentuk JYJ, sama sekali nggak bisa tampil di acara musik TV nasional, jadi panggung musikal jadi panggung utamanya. Mulai dari Mozart! tahun 2010, dia jadi pemeran utama produksi besar seperti Elisabeth, Dracula, dan Death Note. Jo Kwon dari 2AM debut di panggung sebagai Herodes di Jesus Christ Superstar tahun 2013, membalas langsung komentar jahat penuh prasangka soal Priscilla, dan lanjut ke Jamie dan Rent. SUHO dari EXO juga rutin naik panggung musikal.
Cerita di baliknya agak pahit. Selain segelintir nama besar, bayaran aktor musikal kecil, dan banyak yang ambil peran figuran di drama dan film supaya tetap dapat kerjaan. Memasuki 2010-an, jadi bintang cuma dari panggung makin susah, jadi sejak sekitar 2015 makin banyak aktor panggung yang mencari nama lewat drama dan variety show. Sebaliknya, rumah produksi sering memasang idol dan bintang TV sebagai pemeran utama demi jualan tiket, jadi perdebatan soal skill nggak pernah selesai. Beda dengan debut Chungmuro, di mana wajah yang terkenal dari TV atau K-pop pindah ke film, jalur ini soal menyeberang dengan suara dan tubuh terlatih sebagai senjata.