eumju unjeon cheobeol (음주운전 처벌)
Di Korea, nyetir dalam keadaan mabuk jadi kejahatan yang jauh lebih berat sejak 2018. Setelah ada 'UU Yoon Chang-ho', yang namanya diambil dari seorang pemuda korban kecelakaan, seleb yang ketahuan nyetir mabuk praktis berhenti berkarier.
Awalnya tahun 2018, ketika Yoon Chang-ho, pemuda usia dua puluhan, tewas ditabrak pengemudi mabuk di Busan. Teman-temannya bikin petisi menuntut hukuman lebih berat, dan publik ikut bergerak. Undang-undang yang lahir dari situ disebut dengan namanya. Menamai UU pakai nama korban jadi pola di masa itu, misalnya UU Goo Hara, dan masuk ke cerita panjang soal kasus besar yang mengubah aturan, seperti UU Dogani.
Perubahan yang paling kerasa adalah batasnya. Ambang legal turun ke kadar alkohol darah 0,03%, kira-kira bisa tercapai cuma dengan satu sloki soju. Jadi alasan 'cuma minum segelas kok' sudah nggak mempan. Hukuman kalau sampai melukai atau menewaskan orang juga naik tajam.
Aturannya terus direvisi. Pasal yang memperberat hukuman buat siapa pun yang ketahuan dua kali, berapa pun jaraknya, dinyatakan inkonstitusional oleh Mahkamah Konstitusi tahun 2021, lalu diberlakukan lagi tahun 2023 khusus untuk pelanggaran ulang dalam sepuluh tahun. Sejak Oktober 2024, pelanggar berulang yang SIM-nya dicabut wajib pasang alat pengunci yang bikin mobil nggak bisa nyala kalau mendeteksi alkohol. Di tahun yang sama, DPR mengubah UU supaya minum lagi setelah kecelakaan demi mengacaukan hasil tes dihukum sama seperti menolak tes napas.
Keseharian juga berubah. Habis hoesik alias makan malam kantor, orang langsung panggil sopir pengganti atau buka aplikasi taksi, dan kalau bawa mobil, kamu dengan bangga jadi orang yang nggak minum. Di dunia hiburan, sekali ketahuan artinya kehilangan kontrak iklan dan menghadapi tuntutan dikeluarkan dari acara. Dan seperti kasus skuter listrik dan alkohol, kendaraan apa yang dikendarai bisa jadi inti perdebatan soal seberat apa hukumannya.