decodeK

Photobooth empat potong

KataRuangFotografiWisataInti

Masuk ke bilik kecil, jepret empat kali berturut-turut, dan selembar strip foto memanjang langsung tercetak di tempat. Ini wajib buat bestie, pasangan, dan fans, dan praktis jadi oleh-oleh standar tiap jalan-jalan ke Korea.

Nama yang memicu demamnya adalah Life Four Cuts (Insaeng Ne-keot). Pendirinya dapat ide dari mesin foto paspor di stasiun kereta bawah tanah, lalu beli hak nama 'Insaeng Ne-keot' setelah lihat nama itu di mesin foto stiker di daerah. Bilik pertamanya buka tahun 2017 di jalan Dongseong-ro, Daegu. Sekarang nama mereknya dipakai buat nyebut foto empat potong secara umum. Pesaing kayak Photoism, Harufilm, dan Photo Signature pun bermunculan, jadi di jalanan Hongdae atau Myeongdong bisa ada beberapa dalam satu blok. Kebanyakan toko tanpa penjaga, jadi mampir tengah malam pun biasa aja.

Fakta seru: strip vertikal 2x6 inci itu format photobooth klasik di Barat sejak 1980-an. Korea bikin jadi aktivitas seru dengan properti kayak bando dan kacamata hitam, plus desain frame yang terus ganti. Kamera di dalam biliknya biasanya DSLR Canon kelas pemula, makanya kualitasnya lumayan banget.

Nenek moyangnya foto stiker. 'Print Club' (purikura) keluar di Jepang tahun 1995, masuk Korea beberapa tahun kemudian, dan bikin heboh anak sekolahan cewek tahun 90-an. Sempat dilupakan, lalu balik lagi lewat gelombang retro akhir 2010-an dalam bentuk strip empat potong.

Sekarang strip ini jadi arsip hidup. Pasangan foto tiap 100 hari sebagai bagian budaya pacaran Korea; bestie mengabadikan momen pakai pose V dan finger heart. Buat fans, ini bagian dari ngefans garis keras: frame edisi terbatas hasil kolaborasi dengan grup idol bikin antrean, dan foto sambil pegang photocard bias udah jadi genre sendiri. Life Four Cuts juga go international, buka toko pertama di Inggris di New Malden, kawasan Koreatown, dan cabang Soho di London pernah dapat omzet lebih dari 100 juta won sebulan.