Ronde satu, dua, tiga
Mulai dari makan daging, pindah tempat buat minum lagi, terus ditutup di noraebang. Nongkrong ala Korea nggak berhenti di satu tempat, tapi pindah-pindah, jadi nggak ada yang tahu kapan beneran selesai.
Ronde pertama biasanya makan: samgyeopsal sama soju, atau somaek. Begitu kenyang, ada aja yang teriak 'ronde dua!' dan rombongan pindah ke tempat bir, pojangmacha, atau tempat chimaek. Ronde ketiga hampir pasti noraebang. Bahkan di kantor yang udah ngurangin minum, urutannya tetap bertahan: makan dulu, lanjut karaoke atau nonton baseball, terus minimarket atau kafe, sampai tengah malam.
Yang paling kerasa ya di hoesik, makan-makan kantor. Kalau bos bilang 'satu gelas lagi', susah banget buat pulang duluan, belum lagi soal bayarnya. Sering kali kartu kantor cuma nanggung ronde pertama, sisanya bagi rata. Ada juga batas hukumnya: hoesik yang dibayar pakai kartu perusahaan bisa dianggap perpanjangan kerja, jadi kecelakaan di jalan pulang bisa diakui sebagai kecelakaan kerja, tapi mulai ronde dua itu susah diklaim. Makanya bos yang disayang semua orang itu yang bayar ronde pertama, nyerahin kartu ke tim, terus pulang duluan.
Menjelang akhir malam, kotanya yang nolongin. Ini kota 24 jam yang banyak tempatnya buka sampai subuh, jadi kalau ketinggalan kereta terakhir masih ada daeri (sopir panggilan yang nyetirin mobil kamu sendiri) atau aplikasi taksi, dan ada juga yang langsung tidur di jjimjilbang. Paginya waktunya haejang, makan buat ngilangin hangover.
Tapi suasananya lagi berubah. Di survei tahun 2022, cuma 33% yang bilang bakal sering ikut hoesik setelah pembatasan COVID dicabut, dan 39% bilang bakal lebih jarang ikut ronde dua. Bandingin sama negara tetangga seru juga: Jepang punya 'nijikai' (二次会, pesta kedua) sendiri, tapi di China orang biasanya udahan setelah makan. Terus di tim TV atau developer yang sering lembur semalaman, ada versi kebalik: bakar daging jam 8 pagi, ronde ketiga kelar sore.