Rom-com Korea jadi nomor satu dunia
Rom-com Korea yang tayang perdana dengan rating 4,9% di negaranya malah nangkring di puncak chart global Netflix. Katanya cuma tontonan gelap atau yang super baru yang bisa laku di luar negeri, tapi angka-angkanya membuktikan formula yang familiar justru lebih gampang nyebrang.
Awalnya dari Business Proposal, drakor Senin-Selasa SBS tahun 2022. Seorang karyawan datang ke kencan buta menggantikan temannya, dan dari semua orang di dunia, yang duduk di depannya malah CEO kantornya sendiri. Ceritanya diangkat dari web novel berjudul sama. Di Korea episode pertamanya 4,9% dengan puncak 11,6%, sukses sih, tapi bukan yang bikin sejarah. Apalagi ini bukan Netflix Original, cuma judul simulcast yang hak siar luar negerinya dipegang Netflix, jadi nggak ada promosi internasional sama sekali.
Terus word of mouth mulai jalan. Tanggal 9 Maret drakor ini nomor satu di delapan negara dan masuk peringkat global di posisi lima. Tanggal 23 Maret, rekor poin drama simulcast milik Vincenzo berhasil dilewati. Masuk posisi delapan di AS bikin dia jadi konten Korea pertama di luar serial Netflix sendiri yang tembus chart sana. Sejak akhir Maret, dia terus di puncak chart mingguan TV non-Inggris, dan begitu Eropa dan Amerika Latin kebagian setelah tamat, drakor ini nomor satu di 23 negara dan nomor dua dunia, cuma kalah dari Bridgerton. Netflix bahkan nambahin dubbing Inggris, Spanyol, dan Portugis, langka banget buat judul non-original. Rekor simulcast itu baru patah waktu Extraordinary Attorney Woo datang. Pertengahan April, di antara drakor, jam tontonnya cuma kalah dari Squid Game, All of Us Are Dead, dan Hometown Cha-Cha-Cha.
Kenapa bisa meledak? Semua orang tahu ceritanya klise. Bedanya ada di kecepatan. Rahasia si pemeran utama cewek ketahuan di episode empat, konflik yang di drama makjang zaman dulu bisa ditarik berminggu-minggu. Penonton Korea memujinya sebagai alur saida, lega kayak minum soda, bukan alur goguma yang bikin sesak kayak keselek ubi. Efek CG ala kartun nambah lucu, dan pemeran utamanya Kim Se-jeong dapat julukan Emma Stone-nya Korea. Karena perusahaannya bergerak di bidang makanan, PPL-nya pede memamerkan kimchi dan mandu sebagai makanan Korea, dan penonton suka banget. Cuma 12 episode, lebih pendek dari standar 16 episode, jadi pas banget buat maraton. Variety dan Vulture juga ikut membahas fenomenanya.
Setahun kemudian terbukti ini bukan kebetulan. King the Land dari JTBC tahun 2023 bercerita tentang pewaris chaebol yang benci senyum palsu dan pegawai hotel yang kerjaannya harus senyum terus. Di awal dicap penuh klise, tapi ratingnya naik terus tiap minggu tanpa sekali pun turun, dan banyak yang ngaku nonton demi chemistry Lee Jun-ho dan YoonA. Di Netflix, ini jadi drakor simulcast kedua setelah Woo yang jadi nomor satu dunia gabungan TV Inggris dan non-Inggris. Cuma 51 hari setelah rilis, drakor ini masuk top 10 TV global tahunan 2023, dan dari total jam tonton 2023 sampai 2025, dia peringkat dua di antara serial Korea dan nomor satu di antara judul non-original. Syuting di Bangkok bikin fans Thailand heboh, tapi penggambaran pangeran Arab memicu kritik keras dan serangan rating dari penonton Arab, sampai tim produksi merilis permintaan maaf dalam bahasa Korea, Inggris, dan Arab.
Pelajaran dari dua drakor ini simpel. Setelah banjir serial genre yang berat, penonton yang capek mikir pengin rom-com yang bisa ditonton santai. Chaebol dan karyawan biasa, nikah kontrak atau pacaran pura-pura: premis kayak gitu nggak perlu diterjemahin. Rating lokal bukan lagi satu-satunya rapor, dan rilis serentak di seluruh dunia bikin rom-com jadi produk global. Tren ini langsung nyambung ke era saat semua platform streaming datang barengan.