Kontrak standar artis
Tahun 2009, Komisi Persaingan Usaha Korea merilis format standar kontrak eksklusif untuk artis dan membatasi durasinya maksimal tujuh tahun. Dokumen inilah alasan kenapa isu perpanjangan kontrak tahun ketujuh selalu heboh di K-pop.
Sebelumnya, kontrak antara agensi dan artis pada dasarnya ditentukan sepihak oleh perusahaan. Durasi lebih dari sepuluh tahun, bagi hasil yang timpang, dan syarat pemutusan yang cuma menguntungkan satu pihak itu hal biasa, sampai fans dan media menyebutnya kontrak budak. Juli 2009, komisi itu mengumumkan dua model kontrak untuk pekerja budaya pop, satu untuk penyanyi dan satu untuk aktor, dengan tujuan membereskan praktik nggak adil dan melindungi artis. Intinya dua: tujuh tahun jadi patokan durasi, dan selama kontrak artis nggak boleh negosiasi atau ambil kerjaan sendiri maupun lewat pihak ketiga tanpa izin agensi. Hak dan kewajiban kedua pihak akhirnya dirangkum di satu lembar.
Timing-nya dramatis banget. Hampir bersamaan, Kim Jae-joong, Kim Jun-su, dan Park Yu-chun dari TVXQ mengajukan permohonan ke pengadilan untuk membekukan kontrak mereka, mempersoalkan durasi 13 tahun dan pembagian uangnya. Gugatan ini memperlihatkan ke seluruh Korea kenapa kontrak standar itu perlu. Ketiganya lanjut sebagai JYJ, sementara TVXQ jalan sebagai duo. Waktu sengketa KARA dengan agensinya meledak di 2011, publik lagi-lagi pakai kontrak ini sebagai tolok ukur siapa yang benar.
Dampak paling kelihatan dari batas tujuh tahun adalah kutukan tahun ketujuh. Idol yang tanda tangan durasi maksimal waktu debut sampai di meja perpanjangan secara bersamaan, jadi member keluar dan grup bubar numpuk di sekitar tahun ketujuh. 2NE1 dan miss A mengumumkan bubar di sekitar momen itu, dan Girls' Generation kehilangan satu member tepat di hari ulang tahun debut ketujuh. Makanya grup yang tembus sepuluh tahun tanpa ganti formasi, seperti SHINHWA, punya sebutan sendiri: grup berumur panjang.
Tapi banyak juga bukti kalau kontrak habis bukan berarti grup tamat. Girls' Generation tetap pakai namanya walau tiga member keluar dari SM Entertainment di 2017. GOT7 kompak mengakhiri kontrak dengan JYP Entertainment di tahun ketujuh pada 2021, lalu merilis single sebulan kemudian, bahkan akhirnya comeback full member padahal semua beda agensi. Kasus paling awal adalah SHINHWA: begitu kontrak pertama habis di 2003, keenamnya pindah perusahaan bareng, dan katanya sejak itu agensi jadi jauh lebih ketat soal perpanjangan. Perjuangan panjang mereka untuk merebut kembali nama grup juga berakar dari sini. Sebaliknya, member BEAST yang keluar dari Cube Entertainment nggak bisa pakai nama lama dan mulai lagi sebagai Highlight.
Angka tujuh nggak menyelesaikan semuanya. Semua biaya agensi, dari kelas trainee, asrama, mobil, sampai produksi album, dicatat sebagai investasi di muka yang nanti dipotong dari penghasilan artis. Jadi bertahun-tahun nggak dapat bayaran setelah debut belum tentu melanggar hukum, dan konflik biasanya pecah kalau laporan pembagiannya nggak transparan. Kasus BAEKHYUN dan member EXO lain yang menuntut data pembayaran di 2023 masih satu cerita dengan ini. Kontrak juga sering disesuaikan karena waktu yang hilang untuk wajib militer, dan menjelang habis kontrak, tuduhan tampering, yaitu perusahaan lain mendekati artis duluan, sering muncul.
Kontraknya sendiri masih terus dirapikan. Kebiasaan lama menulis janji nggak pacaran di kontrak sudah banyak dikritik, dan urusan itu juga sedang diberesin lewat kontrak standar. Jadi kalau ada yang tanya kenapa fandom selalu panik tiap tahun ketujuh, jawabannya satu formulir dari 2009.