decodeK

en-po sedae (N포세대)

KataSosialAnak mudaPopulasi

Awalnya disebut 'generasi sampo', generasi yang menyerah pada tiga hal: pacaran, menikah, dan punya anak. Daftarnya terus nambah sampai angkanya jadi N aja. Angka kelahiran Korea yang terendah di dunia adalah sisi lain dari kata ini.

'Po' diambil dari aksara Sino-Korea yang artinya 'membuang', alias menyerah. Tim liputan khusus koran Kyunghyang Shinmun menciptakan istilah 'generasi sampo' tahun 2011 untuk seri artikel soal negara kesejahteraan. Maksudnya anak muda usia 20 sampai 30-an yang nggak ikut kencan buta, kalaupun pacaran nunda nikah, kalaupun nikah nggak punya anak. Lalu angkanya membengkak. Tambah kerjaan dan punya rumah jadi lima. Lepas kesehatan dan urusan penampilan, tujuh. Kehilangan relasi dan harapan, sembilan. Sekitar 2015 semua orang capek ngitung, jadilah N-po. Menyerah berubah jadi variabel.

Latar belakangnya klasik. Lebih dari 70% lulusan SMA lanjut kuliah, dan Korea nomor satu di OECD untuk lulusan pendidikan tinggi usia 25 sampai 34, tapi kerjaan bagus nggak ikut nambah. Pertumbuhan lambat sejak krisis IMF, harga rumah dan deposit jeonse yang meroket, dan anak muda yang pindah-pindah kerja part-time bergaji minimum saling berkelindan. Antrean orang yang belajar buat tes PNS dan yang bertahan di kamar sempit gosiwon juga bagian dari cerita yang sama.

Di masa yang sama, muncul banyak istilah lain. Hell Joseon menyamakan negara dengan neraka, dan teori sendok emas vs sendok tanah, ide bahwa kekayaan orang tua menentukan hidupmu, meledak sekitar 2015. Koran konservatif meminjam istilah 'generasi satori' dari Jepang dan menyebut mereka 'generasi pasrah' yang sudah nggak punya keinginan. Di luar negeri juga ada saudaranya: 'tang ping' (rebahan) di China dan 'generasi 1.000 euro' di Eropa. Hampir semua anak muda di negara maju punya label kayak gini.

Ada juga tafsiran yang lebih penuh harapan. Kritikus Lee O-young bilang, menyebut diri N-po sebenarnya teriakan bahwa kamu nggak mau menyerah. Bilang udah nyerah artinya kamu masih pengin. Dan generasi ini memang berbelok: setelah melepas hal-hal besar, banyak yang cari kemenangan kecil yang bisa mereka kendalikan, kayak rutinitas pagi dan self-improvement ala godsaeng.

Di tahun 2020-an, media mengganti istilah ini dengan generasi MZ. Kritikus bilang kondisinya hampir nggak membaik, cuma namanya yang ganti. Generasi sampo tahun 2011 per 2024 sudah berusia 30-an sampai awal 50-an, dan ada yang menyebut mereka lost generation versi Korea. Statistik bihon dan angka kelahiran rendah menunjukkan kata ini memang bukan bercandaan.