decodeK

Nonton pakai subtitle

KataBahasaDrakorGlobalInti

Makin banyak orang pilih subtitle ketimbang dubbing, jadi suara asli aktor dan gaya ngomongnya bisa nyebrang ke luar negeri tanpa diubah. Buat banyak orang, beberapa kata yang nyangkut di kepala waktu baca subtitle jadi langkah pertama belajar bahasa Korea.

Yang paling pas merangkum ini adalah Bong Joon-ho. Di panggung Golden Globe dia bilang, kalau kamu bisa melewati 'tembok subtitle setinggi satu inci', kamu bakal ketemu jauh lebih banyak film bagus. Kalimat itu nyindir penonton Amerika yang lebih suka dubbing daripada baca, dan di musim yang sama Parasite, film bersubtitle, melaju sampai Best Picture di Oscar.

Korea dari dulu memang negara subtitle. Film asing yang di-dubbing di bioskop cuma animasi anak atau pemutaran ramah disabilitas, karena kebanyakan orang mau dengar suara asli aktornya. Ada juga yang bilang Hangeul ikut membantu, karena hurufnya dirangkai jadi blok suku kata yang ringkas, jadi satu baris pendek bisa memuat banyak arti. Sebaliknya, film Korea hampir nggak pernah pakai subtitle di negaranya sendiri, kecuali kalau dialek-nya kental banget. Lalu Netflix memasang subtitle secara default di tayangan Korea, dan sekarang banyak orang Korea nonton drakor sendiri dengan subtitle nyala.

Tentu saja subtitle cuma membawa sebagian isi dialog. Ada ungkapan populer bahwa subtitle cuma memuat sekitar 40% dari dialog asli. Makanya begitu Squid Game rilis, langsung ramai perdebatan soal subtitle bahasa Inggris yang dianggap menghilangkan nuansa. Celah inilah yang diisi terjemahan fans, dan belakangan terjemahan otomatis dan dubbing AI jadi pemain baru.

Tetap saja, yang nonton pakai subtitle pasti membawa pulang sesuatu. Awalnya ikut-ikutan mengulang dialog legendaris dari satu adegan, lama-lama kecantol bahasanya, bahkan ada yang akhirnya ikut TOPIK. Satu catatan: tulisan warna-warni yang memenuhi layar variety show Korea itu bukan terjemahan, tapi editan buat lucu-lucuan, genre sendiri yang disebut teks variety.